Solusi Mengatasi Perubahan Iklim
Jeffrey D. Sachs,
GURU BESAR PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DAN DIREKTUR EARTH INSTITUTE PADAT COLUMBIA UNIVERSITY, PENASIHAT KHUSUS SEKRETARIS JENDERAL PBB MENGENAI MILLENNIUM DEVELOPMENT GOALS
Di antara semua kawasan utama di dunia, Eropa-lah kawasan yang bekerja paling keras melaksanakan kebijakan mengatasi perubahan iklim di dunia akibat ulah manusia itu. Namun strategi dasar pendekatan Eropa ini–sistem perdagangan emisi gas rumah kaca seantero benua yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim–mengalami kemacetan. Pengalaman inilah yang menunjukkan perlu adanya strategi yang lebih baik bagi Eropa maupun bagi kawasan-kawasan lainnya di dunia.
Penyebab utama perubahan iklim akibat ulah manusia ini semakin jelas bagi masyarakat di dunia. Beberapa jenis gas, termasuk karbon dioksida, metan, dan sendawa oksida, menghangatkan bumi, sementara konsentrasinya meningkat di atmosfer. Sementara ekonomi dunia meningkat, begitu pula halnya dengan emisi berbagai jenis gas tersebut yang mempercepat laju perubahan iklim akibat ulah manusia ini.
Gas rumah kaca yang utama adalah karbon dioksida. Sebagian besar dari emisi CO2 timbul dari pembakaran bahan bakar fosil – batu bara, minyak, dan gas alam – guna menghasilkan energi. Konsumsi bahan-bahan bakar ini terus meningkat seiring dengan meningkatnya ekonomi dunia. Akibatnya, kita sekarang berada pada jalur menuju tingkat CO2 yang paling berbahaya di atmosfer.
Dua puluh tahun yang lalu, dunia sepakat mengurangi emisi CO2 dan berbagai gas lainnya, tapi tidak banyak kemajuan yang tercapai. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang pesat di negara-negara yang baru bangkit, terutama Cina yang banyak menggunakan batu bara sebagai bahan bakar itu, telah melambungkan tingkat emisi CO2 global.
Perubahan iklim yang berbahaya sudah dimulai. Jika dunia terus berbuat seperti sekarang ini, suhu global pada akhirnya bakal meningkat beberapa derajat Celsius, sehingga meningkatkan permukaan laut, menimbulkan mega-badai, gelombang panas yang masif, kekeringan yang ekstrem, banjir bandang, dan menurunkan dengan tajam keanekaragaman hayati.
Mengubah sistem energi di dunia ini merupakan tantangan yang sangat berat, karena penggunaan bahan bakar fosil dalam ekonomi dunia begitu mendalam. Minyak merupakan bahan bakar utama untuk angkutan di seluruh dunia. Jumlah batu bara dan gas yang digunakan sebagai bahan bakar terus meningkat guna menghasilkan listrik dan menggerakkan industri. Jadi bagaimana caranya agar kita bisa mempertahankan kemajuan di bidang ekonomi, seraya dengan tajam mengurangi emisi karbon?
Esensinya ada dua solusi, dan kedua-duanya belum penuh dilaksanakan secara luas. Pertama, beralih dari bahan bakar fosil ke sumber-sumber energi terbarukan, terutama tenaga angin dan tenaga surya. Beberapa negara juga akan terus menggunakan tenaga nuklir. (Pembangkit listrik tenaga air tidak menghasilkan emisi CO2, tapi cuma tinggal di beberapa negara saja di dunia di mana ia bisa diperluas tanpa ongkos sosial dan lingkungan yang besar yang harus dibayar).
Solusi kedua adalah menangkap emisi CO2 dan menyimpannya di bawah tanah. Tapi teknologi ini, yang dinamakan carbon capture and sequestration (CCS), belum terbukti pada skala yang besar. Satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan menangkap CO2 pada pembangkit listrik, sementara batu bara atau gas yang digunakannya terbakar. Suatu cara lainnya adalah dengan menangkap CO2-nya langsung dari udara dengan proses kimiawi yang khusus dirancang untuk itu. Cara mana pun yang digunakan, CCS membutuhkan investasi yang besar di bidang penelitian dan pengembangan lebih lanjut sebelum menjadi teknologi yang bisa diandalkan.
Masalahnya adalah waktu. Jika kita punya waktu satu abad untuk mengubah sistem energi di dunia, kita boleh merasa aman. Namun kita mesti menuntaskan dulu peralihan ke energi rendah karbon sebelum pertengahan abad ini. Ini sangat sulit dilakukan mengingat lamanya periode transisi yang dibutuhkan untuk merombak infrastruktur energi di dunia, termasuk bukan hanya pembangkit listrik, jaringan transmisi, dan sistem transportasi, tapi juga rumah dan bangunan komersial.
Tidak banyak kawasan ekonomi di dunia yang berhasil mencapai kemajuan dalam menuntaskan peralihan ini. Sebenarnya, Amerika Serikat saat ini melakukan investasi yang besar dalam penggunaan gas alam tanpa menyadari bahwa booming pemanfaatan gas serpih di negeri ini dengan menggunakan teknologi hydraulic fracturing yang baru itu, mungkin justru bakal memperparah keadaan.
Bahkan, jika ekonomi Amerika Serikat beralih dari batu bara ke gas alam, batu bara yang dihasilkan negeri itu akan diekspor dan digunakan di negara-negara lain di dunia. Bagaimanapun juga, gas alam, walaupun tidak begitu padat karbon dibanding batu bara, merupakan bahan bakar fosil; membakarnya akan menyebabkan kerusakan iklim yang tidak bisa diterima.
Hanya Eropa yang telah dengan serius mencoba mengurangi emisi karbon dioksida dengan memberlakukan sistem yang mengharuskan setiap industri penyebar emisi mendapatkan izin untuk setiap ton CO2 yang mereka sebarkan. Karena izin ini diperdagangkan dengan harga pasar, perusahaan tertarik mengurangi emisi yang mereka sebarkan, dan mereka tidak perlu membeli surat izin dalam jumlah yang besar atau menjual kelebihan surat izin yang mereka miliki dengan mengantongi keuntungan.
Masalahnya, harga pasar izin ini telah anjlok di tengah melemahnya ekonomi Eropa. Izin yang biasanya dijual dengan harga lebih dari US$ 30 per ton sebelum krisis sekarang diperdagangkan dengan harga di bawah US$ 10. Dengan harga yang rendah ini, perusahaan tidak tertarik memangkas emisi CO2 mereka–dan tidak yakin bahwa insentif berbasis pasar ini bakal pulih kembali. Akibatnya, banyak industri di Eropa terus menempuh jalan energi seperti biasa bahkan sementara Eropa mencoba menjadi pemimpin dalam transformasi energi ini.
Tapi ada strategi yang jauh lebih baik daripada izin yang diperdagangkan itu. Setiap kawasan di dunia harus mengenakan pajak atas emisi CO2 mulai dengan tarif yang rendah dan ke masa depan dinaikkan secara berangsur-angsur dan terprediksi.
Sebagian dari pendapatan pajak itu harus disalurkan sebagai subsidi untuk sumber-sumber energi rendah karbon, seperti tenaga angin dan tenaga surya, serta untuk menutup biaya pengembangan CCS. Subsidi ini bisa dimulai dalam jumlah yang cukup besar dan berangsur-angsur dikurangi setelah sekian waktu, sementara pajak yang dikenakan atas emisi CO2 ditingkatkan dan biaya pemanfaatan teknologi energi yang baru turun dengan bertambahnya pengalaman serta inovasi.
Dengan sistem pajak karbon dan subsidi jangka panjang dan terprediksi, dunia bakal melangkah secara sistematis ke arah energi rendah karbon, efisiensi energi yang lebih tinggi, dan CCS. Kita tidak punya banyak waktu. Sekarang saat yang lebih mendesak daripada sebelumnya bagi semua kawasan utama di dunia untuk mengadopsi kebijakan energi yang praktis dan berpandangan ke masa depan.
Ada peribahasa yang mengatakan “Waktu Adalah Uang” atau juga dikenal dengan “Time is Money”. Peribahasa ini sebenarnya bagus untuk mengingatkan kita agar tidak membuang waktu secara sia-sia tetapi memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Sayangnya ada banyak orang yang sepertinya mengartikan peribahasa ini hanya secara harafiah saja, yaitu mati-matian berburu waktu untuk mempertebal pundi-pundi uangnya tanpa memikirkan hal lain. Keluarga dinomorduakan, Tuhan pun demikian. Tidak lagi ada waktu luang untuk hal lain selain mencari uang. Salah seorang yang saya kenal betul hidup dengan cara seperti ini. Ia bekerja tanpa henti bahkan seringkali melewatkan waktu makan dan tidur. Pernah pada suatu kali saya bertanya apakah ia masih meluangkan waktu untuk berdoa, dan ia pun menjawab, “Hah, doa? Saya sudah terlalu sibuk untuk itu.” Ia merasa bahwa doa termasuk dari salah satu hal ‘buang waktu’ ketika dilakukan. Baginya waktu hanyalah akan berguna apabila dipakai untuk menghasilkan uang. Itu artinya ia mempraktekkan Time is Money secara sempit hanya harafiah saja. 
Here today, gone tomorrow. Begitulah sepertinya nasib penyanyi senior yang saat ini sudah dilupakan orang. Ia masih terus bernyanyi dari cafe ke cafe tapi tidak lagi terekspos atau tampil di berbagai media massa, karena masanya dianggap sudah lewat. Saya mengenal banyak pahlawan di dunia musik yang dahulu sangat berjasa tapi akhirnya terkikis oleh waktu sehingga sudah tidak lagi dikenal oleh generasi muda. Saya pernah bertemu dengan salah seorang tokoh yang punya kontribusi besar dalam perkembangan musik di era 70an. Tanpa sosoknya, saya yakin bentuk musik kita hari ini tidak akan sama seperti sekarang. Hari ini orang sudah melupakannya. Saya pernah bertanya, apakah beliau pernah menyesal dahulu mati-matian memperjuangkan musik yang ia cintai ini? Beliau ternyata menjawab tidak. Ia tidak pernah dan tidak akan pernah menyesal. “orang boleh lupa terhadap itu semua, saya boleh dilupakan, tapi saya percaya Tuhan tidak akan pernah lupa. I’m happy with my life, I’m thankful for everything.” katanya sambil tersenyum bahagia.